Filosofi Stoisisme: Cara Mencapai Ketenangan Hidup

Sahabat Sehat, Stoisisme merupakan teori filsafat yang cukup populer akhir-akhir ini. Kecemasan dan kekhawatiran yang sering kali ‘menyerang’ pikiran menjadi alasan mengapa banyak orang mulai menerapkan Stoisisme. Bahkan, Henry Manampiring, penulis sekaligus orang yang mempopulerkan Stoisisme lewat buku karyanya mengaku bahwa gejala depresi yang diderita membaik setelah menerapkan filosofi ini dalam hidupnya. Apakah benar Stoisisme mampu menjadi angin segar dan membantu manusia mencapai ketenangan hidup? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Pengertian Stoisisme

Istilah Stoisisme ditemukan 2.300 tahun lalu di Yunani. Ajaran ini terus disebarluaskan oleh penemunya di sebuah ‘teras berpilar’ atau dalam bahasa Yunani disebut Stoa sehingga muncullah istilah Stoisisme yang sekarang banyak dikenal orang-orang. Tujuan utama filosofi ini yaitu agar manusia bisa terbebas dari emosi negatif dan mencapai ketenangan jiwa.

Free Positive young multiethnic couple smiling and looking at each other on street Stock Photo
Sumber: pexels.com

Hal di atas terbukti dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh psikoterapis dalam rangka menguji efektivitas Stoisisme dalam memengaruhi ketenangan hidup pelakunya menggunakan kuesioner kesejahteraan. Hasil menunjukkan bahwa 13% peserta mengalami peningkatan emosi positif dan 21% lainnya mengalami pengurangan emosi negatif. Berikut ini tiga pilar kebijakan Stoisisme yang perlu Sahabat Sehat ketahui:

1. Dikotomi kendali

Manusia tidak mempunyai kendali atas apa saja yang terjadi di hidupnya. Kondisi/kejadian dibagi menjadi dua bagian besar, yakni bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan.

Kondisi/kejadian yang bisa dikendalikan yaitu opini, keinginan, tujuan, dan semua pikiran dan tindakan kamu. Sedangkan kondisi/kejadian yang tidak bisa dikendalikan yaitu opini orang lain, reputasi/popularitas, kesehatan, kekayaan, kondisi saat lahir, bencana alam. Sejatinya kebahagiaan datang dari hal yang berada di bawah kendali, sementara jika kamu menggantungkan harapan di luar kendali maka bersiap-siaplah untuk kecewa.

Di era sosial media ini banyak orang mendapatkan kebahagiaan dari validasi orang lain. Hal ini sangan berisiko meningkatkan kecemasan. Jika kamu mengikuti standar netizen maka kamu akan menjadi budak milenial tanpa disadari. Energi yang digunakan untuk mengkhawatirkan persepsi orang lain melalui sosial media sebaiknya dialihkan dan digunakan untuk kegiatan produktif dalam rangka meningkatkan value diri.

2. Mengembangkan karakter baik

Free A Woman Wearing a Vest over a Dress Shirt Holding a Book Stock Photo
Sumber: pexels.com

Empat karakter sebagai kunci karakter baik ini terdiri dari kebijaksanaan atau kemampuan mengambil keputusan terbaik dalam situasi apa pun, keadilan utamanya saat memperlakukan orang lain, keberanian dalam perbuatan yang benar, serta menahan diri atas nafsu dan emosi negatif. Sejatinya ke empat karakter tersebut merupakan sifat dasar manusia yang dijalankan dengan cara paling baik yang nantinya akan berdampak pada kebahagiaan hidup.

3. Sadar penuh

Sadar penuh atau mindful merupakan sifat yang melekat pada filosofi Stoisisme. Seorang filsuf Stoisisme mengungkapkan, “Manusia tidak akan terganggu oleh benda atau kejadian, melainkan cara pandang manusia terhadap benda atau kejadian tersebut.” Apa pun cara pandang kamu, tidak akan mengubah kebenaran suatu kejadian. Oleh karena, kemampuan sadar penuh akan membebaskan kamu dari emosi negatif sesuai dengan tujuan filosofi ini.

Nah Sahabat Sehat, filosofi Stoisisme sudah terbukti mampu mengurangi emosi negatif dan mendekatkan jiwa agar semakin tenang. Kiat-kiatnya akan dibahas pada artikel lain. Semoga kamu bisa mengambil hakikat baik dari filosofi ini, ya! Jangan lupa bagikan artikel ini ke orang-orang sekitar kamu!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Psychology Today. 2023. Why Stoicism is More Relevant than You Might Think. psychologytoday.com. Diakses tanggal 27 April 2023.

Henry Manampiring. 2023. Filosifi Teras. Jakarta (ID): Gramedia.

About the Author

Mega Kurniawati

Nutritionist, Health Writer and Editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *