Hati-Hati! Bahaya Oversharing di Media Sosial

Seiring berkembangnya teknologi, mengakses dan membagikan informasi bukan lagi hal yang sulit. Setiap orang jadi lebih mudah mencurahkan setiap pikiran, kondisi hati, dan idenya kepada publik. Tidak hanya di dunia nyata, berbagi informasi pribadi juga semakin marak di media sosial.

Akan tetapi, hal tersebut justru sangat berisiko jika tidak dibatasi. Menurut Tiara Diah Sosialita, M.Psi. Psikolog, Dosen Psikologi Universitas Airlangga (Unair), oversharing adalah kondisi saat seseorang tidak mampu membatasi diri dalam membagikan informasi pribadi ke publik. Berbagai alasan perilaku oversharing meliputi diabaikan orang tua, perundungan, minim apresiasi, kesepian.

oversharing di media sosial
Foto: Pexels.com

Dampak Negatif Oversharing

Mengingat setiap orang mempunyai perspektif masing-masing mengenai suatu hal, kegiatan oversharing bisa jadi sangat berisiko. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari terlalu banyak membagikan hal-hal yang bersifat pribadi, seperti persoalan pribadi, pencapaian, curahan hati, maupun pemikiran mengenai hal sensitif. Baik di dunia nyata, maupun di media sosial, oversharing menjadi bumerang bagi pelakunya.

Pertama, perundungan. Jika kamu terlalu banyak menceritakan hal pribadi, tidak menutup kemungkinan orang yang mendengarkanmu memiliki pendapat berbeda dan merasa tidak nyaman. Akibatnya, mereka berpikir untuk mencari kelemahanmu sebagai bahan perundungan. Jika oversharing dilakukan di media sosial, maka lebih banyak orang mengetahuinya, sehingga menimbulkan perundungan di media sosial berupa pemberian komentar atau reaksi buruk.

Oversharing juga memudahkan niat jahat orang lain. Berlebihan dalam menunjukan informasi pribadi atau kegiatan, akan memudahkan orang yang berniat jahat untuk melakukan aksinya. Sebagai contoh, membagikan lokasi keberadaanmu juga bisa memudahkan atau memancing penguntit untuk mengikuti dan mencelakaimu.

Bahaya Oversharing untuk Kesehatan Mental

Kegiatan oversharing ternyata berpengaruh pada kesehatan mental. Dilansir dari laman Good Doctor, pada tahun 2018 dilakukan survei mengenai efek media sosial terhadap kesehatan mental kepada lebih dari 1700 orang dewasa (usia 19-32 tahun). Survei tersebut memberikan hasil bahwa orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial, lebih banyak mengalami gejala depresi dan kecemasan dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu sering mengakses media sosial.

Kecemasan dan depresi tersebut timbul saat komentar yang diperoleh tidak sesuai, maupun ketika apresiasi atau dukungan yang diharapkan justru tidak diperoleh. Akibatnya, hati merasa tidak tenang dan timbul rasa cemas sembari berharap ada seseorang yang mengomentari.

Bahaya berikutnya adalah kesulitan mengontrol emosi akibat penilaian orang lain yang tidak sesuai dengan persepsimu mengenai apa yang dibicarakan atau yang diunggah di media sosial. Pada akhirnya, semua komentar yang tidak sesuai tersebut berpengaruh negatif pada harga diri yang memicu emosi tidak stabil.

bahaya oversharing di media sosial
Foto: Pexels.com

Berikutnya, muncul rasa egois yang tidak sehat. Dalam kasus ini, keegoisan bisa muncul karena oversharing di media sosial. Kesibukan bersosial media untuk berbagi selfie, pemikiran, curahan hati, bisa menjauhkan diri dari relasi di kehidupan nyata. Terlalu nyaman bersosial media tersebut timbul karena mengalami FOMO (Fear of Missing Out) jika tidak berbagi di media sosial walaupun beberapa saat saja.

Cara Mencegah Oversharing

Terlepas dari apapun penyebab oversharing, Sahabat Sehat perlu menghindarinya. Ingatlah berbagai bahaya di atas dan mulailah membatasi menyampaikan hal pribadi kepada publik. Nah, untuk menghindari oversharing di dunia maya, maupun dunia nyata, kamu perlu melakukan beberapa hal.

Pertama, memikirkan efek jangka panjang sebelum membicarakan atau mengunggah sesuatu di media sosial. Kedua, mengenali alasan di balik kegiatan sharing. Jika alasannya hanya ingin diperhatikan atau diapresiasi, maka cukup ceritakan dengan orang terdekat. Akan tetapi, jika berbagi prestasi untuk personal branding, maka bisa dipertimbangkan. Ketiga, cobalah untuk hindari mengakses media sosial saat emosi tidak stabil.

Oversharing memang sangat berbahaya karena termasuk membagikan sesuatu yang berlebihan tentang hal pribadi. Melalui uraian di atas, Sahabat Sehat bisa mulai menyesuaikan diri dalam berinteraksi di dunia nyata ataupun media sosial.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

About the Author

Yuan Adelintang Kurniadita

Saya adalah mahasiswi Magister Sains Manajemen, UGM, dan sudah berpengalaman sebagai content writer freelance.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *